Saat ini, segala hal tentang “melepaskan”, “mengikhlaskan”, “santai dulu”, dan sejenisnya memang sedang menjadi fenomena yang merajai konten di kehidupan sehari-hari. Mulai dari unggahan media sosial, buku, musik, film, dan banyak hal lainnya. Hebatnya, bahasan tentang hal tersebut cenderung disukai oleh banyak orang.

Jenis konten yang saya maksud adalah konten-konten mengenai self-acceptance, sebuah kondisi yang berkaitan dengan ketenangan, penghargaan terhadap diri sendiri, hingga kerelaan melepaskan apa yang hilang atau gagal kita raih.

Ya, self-acceptance adalah suatu kemampuan untuk dapat melakukan penerimaan terhadap bagaimanapun kondisi diri sendiri.

Kini, buanyaaaakkk sekali akun anonim dengan jumlah followers besar yang memiliki jenis konten seperti itu. Bahkan, tak sedikit pula influencer yang membahas dan menggaungkan hal yang sama di media sosial.

NKCTHI – Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Buku NKCTHI - Nanti Kita Cerita Tentang Hari IniYudiansyah.com

(Sumber: Tokopedia .com)

Salah satu contoh dalam media sosial adalah akun instagram NKCTHI yang hingga hari ini diikuti oleh 1,6 juta akun. Serta, masih banyak lagi akun-akun dengan konten sejenis yang juga disukai oleh banyak orang. Hal ini tentu jika dilihat dari jumlah pengikut serta engagement-nya yang besar.

Hal tersebut semakin terbukti dengan terbitnya buku dari akun NKCTHI yang juga diminati oleh banyak orang. Berdasarkan informasi dari penerbit KPG, di penjualan hari pertamanya (online maupun di toko buku konvensional) buku NKCTHI terjual lebih dari 5.000 eksemplar. Sungguh sesuatu yang luar biasa bagi industri buku kita saat ini.

Karena kehebatan itu pula rumah produksi film Visinema membidik NKCTHI untuk dijadikan film. Visinema melakukan investasi pembuatan film tersebut yang berarti mereka berani setidaknya merogoh kocek 3 Milyar untuk biaya pembuat film. Kamu bisa menghitung sendiri dengan biaya 3 M berapa nilai pendapatan yang diharapkan oleh Visinema dari film tersebut.

Udah dulu bahas NKCTHInya. Kita bahas yang lain dulu.

Media selanjutnya yang saya sebutkan di atas adalah musik. Karena si Marcella NKCTHI tidak bikin lagu jadi saya bahas yg lain saja (rakus bener dia kalo bikin lagu juga. Wkwk)

Kunto Aji – Album Mantra Mantra

Kunto Aji

(Sumber: Instagram Kunto Aji)

Sekarang, kita bisa melihat serta mendengar lagu-lagu Kunto Aji di album Mantra Mantra yang berhasil menyabet penghargaan Album Terbaik di Anugrah Musik Indonesia (AMI 2019). Hampir seluruh lirik di lagunya memiliki semangat yang senada, yaitu self-acceptance.

Contoh lainnya, ada band indie Hindia yang dalam setahun terakhir memiliki peningkatan jumlah pendengar secara signifikan. Lirik lagu Hindia juga memiliki semangat serupa. Mereka yang memiliki kesamaan, atau memang pasarnya yang menginginkan konten seperti itu?

NKCTHI/Marcella, Kunto Aji, Hindia, dan masih banyak lagi konten kreator, dan penyanyi lainnya yang memproduksi konten seperti itu.

Pada dasarnya, kita tahu dan sadar bahwa orang memang menyukai sesuatu karena memiliki keterkaitan/relate. Dan belakangan ini, masyarakat/anak muda millenial merasa relate dan atau juga membutuhkan semangat-semangat self-acceptance untuk menyokong hati serta mental mereka. Karena itu lah, mungkin konten jenis ini dapat diterima dan disukai dengan mudah.

Konten mengenai self-acceptance juga yang ramai dibahas ketika isu mengenai mental-illness awareness banyak dibahas. Kedua isu tersebut jelas banget berhubungan. Isu mental-illness awareness bahkan dibahas juga oleh kalangan selebriti.

Self-Acceptance dan Kecenderungan Masyarakat Milenial

(Sumber: Joan Mendez on Pexels)

Saya teringat atas apa yang pernah disampaikan Pak Haidar Bagir (saya lupa itu di chat WAG, atau secara langsung saat rapat) bahwa generasi milenial memiliki kecenderungan stres yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Setelah saya cari informasi tersebut yang lebih lengkap, saya mendapat artikel mengenai hasil riset dari Mental Health Foundation (MHF) yang membuktikan bahwa generasi milenial memang cenderung lebih stres dibanding kelompok usia lain yang lebih tua seperti generasi X.

Setelah itu saya baru menyadari, dan semakin saya menggali dan mencari tahu, semakin saya menemukan benang merahnya mengenai ini. Bahwa konten mengenai self-acceptance ini sangat ramai dibahas, masih akan terus berkembang dan berlipatganda karena matching dengan karakteristik generasi milenial yang merupakan pasar mayoritas dan potensial di Indonesia.

Sooooo kalo kamu mau membuat konten, event, barang atau apapun yang mau mendapat growth tinggi, segeralah ambil ceruk tersebut karena ada potensi pasar yang besar dan masih akan terus berkembang.

Jangan lupa bahagia! 🙂

Ditulis oleh M. Yudiansyah

Disunting oleh Rara