Salah satu hal besar yang saya lakukan tahun ini adalah mundurnya saya dari Dewan Kerja Cabang Jakarta Selatan di waktu senja masa bakti, alias beberapa bulan sebelum masa bakti berakhir.

Bagi yang tidak tahu, Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega Kwartir Cabang Jakarta Selatan (disingkat DKC JS)  dan juga Dewan Kerja lainnya adalah sebuah satuan di dalam kepramukaan untuk golongan Pramuka Penegak dan Pandega (usia 16-25 tahun) dengan durasi masa bakti 5 tahun, durasi yang bisa dibilang lama untuk pembinaan di usia pengembangan diri.

Kembali teringat masa-masa awal memutuskan mendaftarkan diri sebagai DKC JS di awal 2015, bulan Februari kalau tidak salah, dan itu sudah memasuki periode kedua pendaftaran. Saya ingat betul saat itu bertemu teman baru yaitu Rachmad (kelak menjadi ketua pengganti Husni yang mundur karena menikah), dan Naila (yang kelak menjadi partner diskusi utama saat kami dipaksa naik menempati posisi ketua dan wakil ketua).

“… setelah dijalani juga cukup menguras energi karena saya masih harus menjalani dua rutinitas lainnya yaitu bekerja dan kuliah”

Saat itu pagi yang cerah di halaman sekretariat kwartir cabang yang beberapa bagian bangunannya sudah rapuh, saya sedang merasa canggung karena sudah lama tak menginjakkan kaki di sana. Yang saya ingat sebelumnya sering mondar-mandir di sana saat Jamnas 2006 sebagai peserta dari kontingen JS. Selain itu adalah saat mengurus kegiatan Diksar SWKJS 2011 yang saya menjadi ketua pelaksananya. Setelah dua rangkaian tersebut saya bisa dibilang sangat jarang mengunjungi tempat tersebut.

Saya mengikuti proses rekrutmen setelah melakukan beberapa pertimbangan dan diskusi dengan beberapa teman. Terutama Aang dan Jujun yang baru saja menyelesaikan masa baktinya di satuan yang sama. Tadinya menjadi DK tidak sama sekali menjadi rencana saya, tapi ternyata takdir berkata lain, saya menjadi tertarik dan menjadi anggota DKC JS untuk dipertemukan oleh orang-orang baik dan mengajari saya banyak hal.

Begitu mengikuti serangkaian test termasuk test menulis surat, proposal kegiatan, tiba lah saya di sesi wawancara bersama ketua terpilih dan tim formatur. Di sesi tersebut satu waktu saya ditanya mengenai posisi yang diinginkan, saya menjawabnya dan kemudian terkejut karena saat pengumuman saya malah dipercaya menempati posisi sekretaris. Saya rasa posisi sekretaris cukup menantang dan ternyata setelah dijalani juga cukup menguras energi karena saya masih harus menjalani dua rutinitas lainnya yaitu bekerja dan kuliah.

“Begitu banyak dinamika yang terjadi”

Akhirnya saya menjalani fungsi sebagai sekretaris DKC JS, dengan kemampuan yang ala kadarnya sebisa saya. Bersama Husni, Juah, Yulia, Fitri, Rachmad, Naila, Satrio, Basir, Acil, Adam, Adi, Wilu, Gozali, Elpan, Jujun, dan Nia. Juga mengikuti berbagai dinamika dan persoalan di dalam organisasi maupun fungsi mengkoordinir pramuka penegak dan pandega di Jakarta Selatan.

Saya tidak ingat berapa kali terjadi perubahan struktur organisasi hingga di tengah waktu terjadi pergantian antar waktu dengan bergabungnya beberapa orang, yaitu Prakoso, Dinda, Winarto, Sulastri, dan Upi menggantikan beberapa orang sebelumnya, termasuk Rachmad menjadi ketua dan kemudian digantikan juga oleh saya. Begitu banyak dinamika yang terjadi.

Tidak terhitung juga berapa kali gesekan terjadi di dalam dan di luar DKC, berapa kali terjadi adu argumen, ngambek, emosi, marah, tangis, kesal, dan juga pasti ada tawa, bahagia, geli, dan juga bahagia.

Bagi saya, bergabung di organisasi berarti menambah masalah, dan memiliki masalah adalah sesuatu yang harus disyukuri karena artinya kita memiliki sesuatu untuk terus dipelajari (problem solving) terus menerus yang mana itu tidak dimiliki oleh orang lain.

“…yang lebih penting di atas segalanya adalah silaturahmi dan kekeluargaan yang terbangun”

Selain itu, kemampuan untuk bekolaborasi dan bekerja bersama secara kolektif juga yang terlatih selama di DKC JS. Bagaimana kita bereaksi atas pemikiran yang berbeda, dan kesalahan yang dilakukan orang lain dan juga diri sendiri. Bagaimana bernegosiasi, bagaimana menyampaikan argumen di tengah pembicaraan emosional, bagaimana menyampaikan dan membahas hal yang tidak menyenangkan, dan bagaimana kekuatan kita berada di posisi tersebut. Beberapa tidak kuat hingga mundur atau menghilang tanpa kabar. Bagian dari dinamika.

Selain kemampuan leadership, problem solving, manajerial, kolaborasi, komunikasi, critical thinking, dll. sepertinya menjadi Dewan Kerja bisa menjadi salah satu tempat untuk mengasah 21st Century Skill yang sangat dibutuhkan saat ini.

Selain itu, yang lebih penting di atas segalanya adalah silaturahmi dan kekeluargaan yang terbangun di internal DKC maupun dengan DKR se-Jakarta Selatan, serta yang lainnya. Berapa kali tidur bareng, berapa kali keringetan bareng, berapa kali laper-makan-minum bareng, berapa kali marah-berantem bareng.

Akhir kata saya mengucapkan terima kasih banyak kepada semua yang pernah berhubungan dengan saya selama menjadi DKC, saya mengakui saya banyak mendapatkan ilmu dan pelajaran, dan tentu juga melakukan kesalahan. Dan tentu yang masih terus berlangsung hingga saat ini dan terus berlanjut adalah silaturahmi 🙂

Jangan pernah berhenti berdinamika.

Terima kasih banyak.
Selamat menghabiskan waktu senja masa bakti, DKC JS 2015-2020.

With love,
M. Yudiansyah